Hakikat Manusia Menurut Islam; Setiap Manusia Pasti Memiliki 5 Hal Ini (Siapapun Dia, Di Mana Pun, Kapan Pun)

Mengkaji hakikat manusia itu memang penting. Karena dari situ kita bisa tahu secara objektif apa fitrah manusia itu, sehingga bisa tahu pula apa saja hal-hal yang wajar dan maklum pada manusia, dan apa saja hal-hal yang tak wajar dan tak maklum pada manusia.

Dengan begitu, maka kita akan mampu memberikan keputusan yang tepat pada tiap manusia.

Nah, sejatinya setiap manusia -siapapun dia, hidup di zaman kapan pun, dan berada di mana pun- pasti memiliki 5 hal berikut ini.

1. Kebutuhan hajat (hajatul udhawiyyah)

hakikat manusia

Fakta yang jelas-jelas ada pada setiap manusia adalah, pasti manusia memiliki kebutuhan hajat. Seperti misalnya:

  • Butuh makanan
  • Butuh minuman
  • Butuh oksigen
  • Butuh tidur
  • Harus buang air
  • Dan lain-lain sebagainya

Yang mana kalau kebutuhan hidup ini tidak terpenuhi, maka manusia bisa sakit, bahkan meninggal.

Terlebih lagi, kebutuhan tersebut tidak perlu dipicu, pasti akan muncul. Meski hanya diam-diam saja, pasti kebutuhan tersebut akan muncul.

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

“Dan diantara Tanda-tanda Nya, (Dia ciptakan) tempat untuk tidur kamu di waktu malam dan siang.” (QS. Ar-Ruum: 23)

مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ

“Ini adalah manusia biasa, yang masih memerlukan makan, sama dengan yang apa kamu makan, dan minum sama dengan apa yang kamu minum.” (QS. Al-Muminun: 33)

2. Naluri mempertahankan eksistensi diri (Gharizatul baqa)

hakikat manusia menurut ajaran islam

Setiap manusia pun pasti memiliki naluri untuk mempertahakan eksistensi diri.

Contoh penampakannya:

  • Marah apabila dihina
  • Senang apabila dipuji
  • Merasa takut saat terancam kecelakaan
  • Senang memiliki harta dan barang-barang yang bagus; seperti misalnya mobil, motor, laptop, smartphone, Rumah, dan sebagainya yang bagus-bagus
  • Selfie
  • Bangga dengan Kampung Halaman
  • Bangga saat berhasil main game

Mungkin sebagian orang menyebutnya egoisme. Ada juga yang menyebutnya survival sense.

3. Naluri melestarikan jenisnya (Gharizatu nau’)

ciri suami setia

Setiap manusia pun pasti memiliki naluri melestarikan jenisnya. Penampakannya akan mendorong manusia untuk melangsungkan kelestarian jenis manusia.

Contoh penampakannya:

  • Memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis
  • Memiliki rasa kebapakan
  • Memiliki rasa keibuan
  • Suka pada anak-anak
  • Mencintai orang tua
  • Suka menyenangkan sahabat
  • Suka membantu tetangga

Sebagian orang menyebutnya rasa iba.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالۡبَـنِيۡنَ وَالۡقَنَاطِيۡرِ الۡمُقَنۡطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالۡفِضَّةِ وَالۡخَـيۡلِ الۡمُسَوَّمَةِ وَالۡاَنۡعَامِ وَالۡحَـرۡثِ‌ؕ ذٰ لِكَ مَتَاعُ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ‌ۚ وَاللّٰهُ عِنۡدَهٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga).” (QS. Ali Imran: 14)

4. Naluri mengkuduskan/mensucikan (Gharizatu tadayyun)

hakikat manusia dalam pandangan islam

Setiap dari kita, pasti ada dorongan untuk memuja, mensucikan, mengagungkan, dan menghebat-hebatkan sesuatu. Ada yang ia anggap paling hebat, paling mantap, paling jago, paling bagus, patut diikuti, patut digembar-gemborkan.

Artikel Lainnya:  Kebencian itu Bukanlah Sesuatu yang Salah. Boleh Saja, Tergantung Membenci Apa Dulu

Contoh penampakan pemenuhannya:

  • Beriman dan bertaqwa kepada Sang Pencipta
  • Melakukan ritual parung laut, pesugihan, nyembah pohon, dan sebagainya
  • Adanya perasaan kurang, lemah, dan membutuhkan hal lainnya
  • Berdo’a
  • Bersumpah atas sesuatu

Yang mana normalnya seseorang pasti menyembah Tuhan. Kalau orang atheis, meski ia tidak menyembah Tuhan, sejatinya ia menyembah dirinya sendiri, atau menyembah materi-materi lainnya.

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ

“Dan jika manusia ditimpa kesusahan, dia memohon kepada Tuhannya dengan kembali kepadaNya.” (QS. Az-Zumar: 8)

Terus, apa bedanya kebutuhan hajat dengan naluri?

Kebutuhan hajat memang berbeda dengan naluri.

Kalau kebutuhan hajat tidak terpenuhi, maka manusia bisa sakit, bahkan meninggal. Kalau naluri, tidak mesti dipenuhi. Apabila naluri tidak dipenuhi, maka tidak akan mengabitkan sakit maupun kematian. Palingan semacam galau gitu aja.

Meski memang naluri itu tidak bisa dihilangkan. Karena memang begitulah fitrahnya manusia. Namun, naluri ini bisa dialihkan pada yang lain, atau ditekan.

Selain itu, kebutuhan hajat tersebut tidak perlu dipicu, pasti akan muncul. Meski hanya diam-diam saja, pasti kebutuhan tersebut akan muncul. Dengan kata lain karena faktor internal.

Namun kalau naluri ini bisa terpicu melalui dua hal; yakni fakta yang kita indera, atau pemikiran-pemikiran. Dengan kata lain karena faktor eksternal.

Misalnya pada naluri baqa; saat kita dihina, maka akan timbul perasaan marah. Atau, tiba-tiba kita teringat dengan seseorang yang dulu pernah menghina kita, maka pun akan timbul perasaan marah. Namun, kalau seandainya kita diam-diam saja, tidak ada yang menghina kita, maka tentu tidak akan muncul perasaan marah itu.

Misalnya pada naluri nau’; saat seorang laki-laki mengindera ada perempuan yang baik akhlaknya, cantik, dan kredibel;, maka ia akan tertarik pada perempuan tersebut. Contoh lain, ada seseorang suka membayangkan seorang perempuan, maka dorongan syahwatnya pun akan timbul juga, meskipun di depan matanya tak ada faktanya.

5. Akal

hakekat manusia menurut islam

Nah, hal kelima inilah yang membedakan antara manusia dengan hewan. Manusia dan hewan sama-sama punya kebutuhan hajat dan naluri. Namun manusia memiliki akal, sedangkan hewan tidak.

Itu sebabnya, tatkala kebutuhan hajat dan naluri hewan terpicu, maka dia akan spontan sesegera mungkin untuk memenuhinya. Tidak peduli bagaimana pun caranya, apapun konsekuensinya, pokoknya harus segera dipenuhi. Iya, sama sekali tidak peduli mau dipenuhi dengan cara apapun.

Sedangkan manusia, tatkala kebutuhan hajat dan nalurinya muncul, maka dia bisa berpikir. Dia akan mengkaitkannya dengan informasi-informasi yang berada di otaknya, yang mana informasi itu akan menentukan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan hajat dan naluri tersebut.

Karena itu, akal sesungguhnya merupakan potensi untuk menghasilkan keputusan (kesimpulan) tentang sesuatu.

Lihatlah kucing, ia asal terkam ikan yang ada di hadapannya. Tak peduli itu punya siapa. Ia pun asal terkam betina yang ada di hadapannya. Tak peduli apakah betina itu adalah induknya, saudara sekandungnya, atau kucing asing.

Artikel Lainnya:  Calon Isteri Mensyaratkan Calon Suami Punya Harta Dulu, Bolehkah?

Lain halnya manusia, ia memiliki akal yang bisa mempertimbangkan pilihan. Tatkala muncul tuntutan hajatul ‘udhawiyah berupa lapar, maka ia bisa berfikir. Dia akan makan apa, dan bagaimana cara mendapatkan makanannya. Apakah makan daging babi yang haram, atau daging ayam yang halal. Apakah akan memakan ayam dengan cara membeli, atau mencuri. Apakah usaha dapetin duitnya dengan cara yang halal, atau yang haram.

  • Kalau menurut informasi di otaknya bahwa babi itu bagus dimakan, maka ia akan memakannya. Kalau menurutnya babi itu haram dimakan, maka ia takkan memakannya.
  • Kalau menurut informasi di otaknya praktek pembungaan hutang itu bermanfaat, maka ia akan melakukannya. Kalau menurutnya praktek pembungaan hutang itu haram, maka ia takkan melakukannya.

Contoh lainnya, ketika Anda yang laki-laki suka dengan seorang perempuan. Anda bisa memilih, ingin memenuhi tuntuan gharizah nau’ tersebut dengan cara bagaimana? Apakah dengan cara menikahinya? Atau pacaran dulu? Atau langsung ditidurin aja? Atau bagaimana?

Mungkin mau tiru caranya kucing yang tanpa akal, yakni asal terkam? Pacaran, kemudian ntah kenapa itu perempuan udah jadi boleh dipegang tangannya, boleh dicium, boleh dipeluk, bahkan boleh “ditidurin” tuh perempuan.

Berbagai macam pilihan untuk memenuhi kebutuhan hajat dan naluri tersebut sangat bergantung dari informasi yang berada di otak seseorang. Di sinilah fungsinya akal untuk mengindera fakta, kemudian mengkaitkan informasi terdahulu terhadap fakta yang barusan diindera, untuk memberikan penilaian.

Maka dari itu, sesungguhnya Allah itu adil. Di akhirat kelak, Allah Swt tidak akan menghisab anak-anak dan orang gila yang memang tak berakal. Namun pasti menghisab kita yang berakal. Yang mana memang kita bebas memilih, mau memenuhi kebutuhan hajat dan naluri kita dengan cara yang seperti apa. Nah, pilihan itulah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Swt, di Akhirat.

Itu sebabnya, pentinglah bagi kita untuk senantiasa mencari informasi apa-apa saja yang halal, dan apa-apa saja yang haram. Sehingga, berdasarkan informasi tersebut, kita dapat memenuhi kebutuhan hajat dan naluri dengan cara yang diridhai oleh Allah Swt. Dengan kata lain, bertaqwa. Yakni menjalankan semua perintah Allah, dan menjauhi semua laranganNya.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

“Kami telah menjadikan untuk isi neraka jahanam, kebanyakan dari manusia dan jin. Mereka mempunyai akal, tetapi tidak digunakan untuk berpikir. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Mereka seperti hewan, bahkan lebih hina lagi.” (QS. Al A’raaf : 179)

Nah, begitulah kurang-lebih pembahasan terkait hakikat manusia.

Wallahua’lam bishshawab..

Sumber gambar: Pixabay.com

BAGIKAN
Dani Siregar
Al-Faqir ilAllah. Menekuni dunia blogging dan Search Engine Optimization Marketing sejak tahun 2011. Suka martabak dan es krim. Hidup untuk mabda' Islam.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar