Kebencian itu Bukanlah Sesuatu yang Salah. Boleh Saja, Tergantung Membenci Apa Dulu

Kebencian itu Bukanlah Sesuatu yang Salah. Boleh Saja, Tergantung Membenci Apa Dulu
Sumber gambar: Pixabay.com

Ada sebagian orang yang agak alergi dengan yang namanya kebencian. Misalnya:

  • Dia tidak suka kalau ada orang yang aksi turun ke jalan
  • Dia tidak suka dengan konten di social media yang ada ‘hawa kebencian’ dan provokatif. Sehingga kalau ada yang seperti itu; maka akan dia blokir, remove, delete contact, dan sebagainya

Kenapa mereka bisa seperti itu, sehemat yang saya amati, ada tiga kemungkinan:

1. Mereka merupakan korban teori motivasi yang ngacok

Mungkin sebagian mereka merupakan korban dari oknum motivator yang mengatakan bahwa kita itu jangan banyak-banyak melihat, membaca, dan mendengar hal-hal yang berbau kebencian. Karena itu bisa merusak mood.

2. Mereka khawatir bila kebencian tersebut menyebar luas, maka dapat mengganggu kepentingannya

Bisa jadi ada sebagian orang yang tidak menyukai suatu kebencian, karena kebencian itu dapat mengganggu kepentingannya.

Misalnya, sesuatu yang dibenci itu merupakan kebijakan salah yang dilakukan sang penguasa. Sehingga kalau dikritisi rakyat, tentu akan mengancam kepentingannya. Maka sang penguasa berusaha membungkam ‘kritik-kritik kebencian’ tersebut. Ntah secara langsung ataupun juga pakai pasukan-pasukannya. Termasuk media dan cyber army.

Misalnya seperti pada zaman orde baru.

3. Mereka salah paham, mereka kira membenci itu dilarang agama

Bisa jadi pula ada orang yang salah paham, bahwa kebencian itu merupakan sesuatu yang dilarang agama. Sehingga menurut mereka; kita itu tidak boleh membenci, melainkan harus banyak-banyak sabar saja.

Jadi, emang sebenarnya membenci itu boleh?

Iya, tentu saja boleh. Malah harus. Tapi, ada tapinya. Tapi, bukan sekadar asal-asal membenci. Tentu ada aturannya. Tidak boleh asal membenci, seperti preman dan tukang bully.

Dalam Islam, ada pembahasan tentang “Cinta dan Benci karena Allah”. Berikut ini saya paparkan beberapa dalil bahwa ada hal-hal yang boleh bahkan harus kita benci, tentunya karena Allah.

Imam At-Tirmidzi telah mengeluarkan hadits, beliau berkomentar, “Hadits ini hasan”, dari Muadz bin Anas al-Juhani bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, berarti ia telah sempurna imannya.”

Imam Muslim juga telah meriwayatkan dari Abû Hurairah, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Apabila Allah membenci seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril dan berfirman, “Sesungguhnya Aku membenci si Fulan, maka bencilah ia.” Rasulullah saw. bersabda, “Kemudian Jibril pun membencinya dan menyeru kepada penghuni langit, sesungguhnya Allah telah membenci si Fulan, maka bencilah ia.” Rasul saw. bersabda, “Kemudian mereka pun membencinya dan setelah itu kebencian baginya akan diletakan di Bumi.”

Menurut al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin AnNabhani dalam kitab Min Muqowwimat Nafsiyah Islamiyah, kalimat “Dan setelah itu kebencian baginya akan diletakan di Bumi”, adalah kalimat yang bermakna tuntutan (perintah). Hal ini bisa diketahui dengan adanya dalâlah al-iqtidhâ. Karena terdapat orang yang mencintai kaum kafir, munafik, dan fasik yang terang-terangan melaksanakan maksiat, ia tidak membenci mereka, maka kebenaran perkara yang diberitakan dalam hadits itu mengharuskan bahwa yang dimaksud dengan berita adalah tuntutan.

Artikel Lainnya:  5 Alasan Menikah Menurut Islam (Kalau Bukan Karena Ini, Pernikahanmu Bisa Nggak Berkah)

Jadi dalam hadits tersebut Rasulullah saw. seolah-olah bersabda, “Wahai para penghuni Bumi, bencilah orang yang dibenci Allah.” Dengan demikian hadits ini menunjukkan wajibnya membenci orang yang dibenci oleh Allah. Termasuk dalam perbuatan membenci orang yang dibenci oleh Allah adalah membenci orang yang suka mendebat perintah Allah, sebagaimana terdapat dalam hadits Mutafaq ‘alaih dari ‘Aisyah dari Nabi saw., beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang suka menentang (mendebat) perintah Allah.”

Ada juga hadits dari Abû Darda riwayat at-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih, sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang berbicara dengan hal-hal yang tidak menyenangkan pendengarnya dan berbuat keji.”

Nah, begitulah..

Jadi, kalau ada orang yang mengatakan “Jangan suka menebar kebencian”, “Ayo kita remove teman-teman facebook kita yang suka bikin status-status kebencian”, dan sebagainya itu salah.

Kalau ada kemaksiatan, yah harus dibenci. Masak kalau ada bahkan merajalela perzinaan, pencurian, pelecehan, perampokan, penjajahan, dan sebagainya gitu; solusinya kita hanya sabar saja?

Lagipula praktek membenci itu tidak mesti berkelahi, tawuran, asal menghina, asal berkata-kata kasar, dan sebagainya. Prakteknya bisa dengan menasehati saja, mengungkap kedok jahat agar publik tak tertipu, dan sebagainya. Kalau bagi pihak yang berwenang, bisa tak sekadar berbicara, tapi juga action menggunakan kekuasaannya.

Dan tentunya kita proporsional pula bahwa kebencian yang harus kita sebarkan agar publik juga ikut membenci itu pada perkara kemaksiatan dan kedzoliman yang dampaknya berpengaruh ke banyak orang.

Sedangkan kalau persoalannya private; misalnya persoalan Rumah tangga, internal organisasi, dan sebagainya; yang mana dampaknya itu tidak berpengaruh pada masyarakat, yah janganlah kebencian pada masalah begitu disebar-sebarkan ke publik luas. Cukup ke yang memang berkeperluan saja.

Kesimpulannya

Yah, begitulah.. Intinya janganlah kita ikut-ikutan membungkam suara kebenaran dengan dalih bahaya provokatif kebencian. Karena pembumkam tersebut bisa jadi termasuk penjilat, atau pengecut.

Artikel Lainnya:  6 Hal yang Membuat Seseorang Tidak Mau Mendengarkan Nasehat Anda

Kalau memang maksiat dan dzolim yang besar, bencilah. Dan ajak orang lain untuk membenci juga.

Analoginya mungkin, tidak semua penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya. Ada kalanya kita harus mendiagnosa, mengindera hal-hal buruk yang menyebabkan kita sakit. Kemudian mengobatinya. Jangan hanya karena ego kita tak suka melihat hal buruk tersebut, misalnya ternyata rokok yang favorit tersebut merupakan sumber masalahnya; sehingga kita tak mau melakukan diagnosa dan pengobatan. Nanti yang senang malah hanya ‘kuman’, ‘virus’, dan sebagainya, sementara tubuh Anda menderita bahkan meninggal.

Tapi argumen intinya sih yah itu tadi, benci karena dorongan keimanan.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar

BAGIKAN
Dani Siregar
Marketing TeknikHidup.