Bisa Membedakan Ilmu dan Tsaqafah, Merupakan Salah Satu Cara Agar Kita Tak ‘Keblinger’ Selaku Muslim

Bisa Membedakan Ilmu dan Tsaqafah, Merupakan Salah Satu Cara Agar Kita Tak 'Keblinger' Selaku Muslim

Sesungguhnya Islam itu merupakan metode kehidupan yang unik. Kehidupan seorang muslim, jelas berbeda dengan kehidupan orang non-muslim.

Namun sayangnya, pada hari ini tak sedikit umat muslim yang menggunakan cara hidup orang non-muslim.

Khususnya fakta hari ini, umat muslim banyak membebek cara-cara hidup orang barat. Mulai dari cara berpakaian, makan-minum, berinteraksi, ekonomi, politik, bahkan sebagian ada pula yang ritual non-Islami.

Nah, fakta menyedihkan demikian yang saya maksud ‘keblinger’.

Sebagian dari mereka secara sadar ataupun tidak sadar mengadopsi pemikiran Barat tersebut, karena berdalih bahwa orang-orang di negeri Barat itu pada maju. Di Barat itu, ada banyak ilmu-ilmu sains yang luar biasa, yang notabene menghasilkan tekonolgi yang luar biasa pula.

Nah, padahal, tidak semua yang dari Barat itu boleh kita adopsi. Sejatinya, ada yang boleh, dan ada yang tidak boleh. Jadi, harus disaring. Terkait hal tersebut, haruslah kita bedakan antara ilmu dan tsaqafah. Jangan sampai kita tidak bisa membedakannya!

Lantaran, sejatinya ilmu itu adalah pengetahuan yang bersifat umum, bebas nilai, boleh dipelajari dan bebas pula dipakai, serta disebarluaskan. Tapi, kalau tsaqafah, belum tentu.Tsaqafah itu boleh dipelajari, tapi dengan syarat-syarat tertentu. Dan tsaqafah itu, ada yang boleh diadopsi, ada yang tidak boleh diadopsi.

Nah, maka dari itu, haruslah Anda bisa membedakan antara mana yang ilmu, dan mana yang tsaqafah? Serta mana tsaqafah yang boleh diadopsi, dan mana tsaqafah yang tidak boleh diadopsi?

Perbedaan Ilmu dan Tsaqafah

Ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh melalui metode pengamatan (observation), percobaan (experiment), dan penarikan kesimpulan dari fakta empiris (inference). Yang dibahas (objeknya) adalah alam. Contohnya, yang secara umum kita pelajari pada mata pelajaran Biologi, Fisika, dan Kimia.

Sedangkan tsaqafah itu, adalah pengetahuan yang diperoleh melalui jalan pemberitahuan (al-ikhbâr), pertemuan secara langsung, penyampaian transmisional (talaqqi), dan penarikan penyimpulan dari pemikiran (istinbath). Contohnya adalah agama, ideologi, hukum, sejarah, bahasa, filsafat, dan segala pengetahuan non-eksperimental lainnya.

Istilah ilmu tersebut sekarang sepadan dengan istilah sains. Karakter dari sains itu adalah dapat diulang, diuji coba di laboratorium, dan hasilnya relatif tidak berubah. Misalnya:

  • Kalau dahulu ditemukan bahwa bentuk sel gabus itu kosong, siapapun yang menelaahnya di mikroskop sekarang akan menemukan hal yang sama. Atau, boleh jadi berbeda.
  • Begitu pula, dulu diketahui bahwa molekul air itu terdiri dari satu unsur O dan dua unsur H (H2O). Kapan pun kebenaran atau ketidakbenaran hal tersebut terbuka untuk dikaji ulang dengan melakukan percobaan yang persis dengan percobaan terdahulu itu.

Begitulah semua jenis sains. Ringkasnya, benar tidaknya produk sains dapat diuji ulang oleh siapa saja dan kapan saja. Itulah ilmu (sains).

Tsaqafah; tergantung kepada bangsa masing-masing, kepercayaan terhadap orang-orang yang memberitakannya, serta landasan dan cara berpikir orang dalam menarik kesimpulan dari berita-berita yang diterimanya.

Contohnya, berikut ini.

Tsaqafah Islam VS Tsaqafah Asing

Tsaqafah Islam adalah segala pengetahuan yang mana aqidah Islam merupakan sebab dalam pembahasannya.

Contoh tsaqafah Islam, seperti halnya:

  • Kita meyakini bahwa dunia ini akan kiamat, dan kelak di Akhirat kita akan berada di Surga atau Neraka selama-lamanya.
  • Kita wajib menunaikan sholat fardhu.
  • Kita wajib menutup aurat.
  • Kita tidak boleh mengambil riba, memberi riba, termasuk tidak boleh mencatatnya dan menjadi saksinya.
  • Kita tidak boleh berkhalwat (seperti halnya pacaran) dengan lawan jenis non-mahrom yang tiada akad nikah.
  • Dan lain-lainnya
Artikel Lainnya:  10 Tips Menjadi Remaja Muslimah Sejati Menurut Islam. Sudah Tahu Belum Sist? Kamu Wajib Tahu Nih

Intinya, tsaqafah Islam itu seluruhnya kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Dari keduanya, dengan memahami keduanya, dan yang mengharuskan keduanya, muncul seluruh cabang tsaqafah Islam.

Keduanya termasuk juga dalam tsaqafah Islam, karena aqidah Islam mengharuskan mengambil keduanya, dan terkait dengan apa yang dibawa oleh keduanya.

Berarti, tsaqafah asing adalah pengetahuan yang sebab pembahasannya berasal dari aqidah atau keyakinan yang bukan Islam. Contohnya:

  • Setiap tanggal 25 Desember itu harus merayakan natal. Nah, itu adalah tsaqafah asing. Karena berasal dari aqidah Nasrani.
  • Paham hedonisme, yakni cinta dunia, kesibukan utamanya untuk mendapatkan kenikmatan duniawi, seperti misalnya harta, seks, hiburan, dan sebagainya. Itu pun tsaqafah asing.
  • Teori evolusi darwin, yang menganggap bahwa asal-muasal manusia adalah kera. Itu merupakan tsaqafah asing yang berasal dari dialektika materi, yang notebene khasnya ideologi Sosialisme-Komunisme.
  • Sistem pemerintahan sekuler yang menganggap bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat. Sehingga, rakyat yang kemudian diwakilkan oleh wakil rakyat yang membuat peraturan hidup, sedang Allah Swt tidak mendapatkan hak untuk menetapkan hukum.
  • Sistem ekonomi Kapitalisme, yang membolehkan bahkan mewajibkan hutang berbunga. Sehingga banyak transaksi pada sektor non-real.

Tentunya, wajib bagi kita hanya mengadopsi tsaqafah Islam, mengembannya, dan menyebarluaskannya.

Dan tentu pula, haram bagi kita mengadopsi tsaqafah asing, mengembannya, dan menyebarluaskannya.  (Namun, dalam jenjang pendidikan tinggi, berbagai ide dan ideologi asing seperti itu tetap boleh dipelajari dalam rangka untuk dikritisi, bukan diadopsi.)

Kalau ilmu, itu bebas. Umat muslim dapat memanfaatkan kemajuan sains dan teknologi semaksimal mungkin. Sebab, yah itu tadi, sains dan teknologi terkategori pengetahuan yang bersifat universal dan dapat diadopsi dari mana saja sumbernya. Mengadopsi ilmu tidak akan mengubah kepribadian, ‘keyakinan’, dan tingkah laku kita.

Lagipula, silahkan kita cek sirah Rasulullah Saw, bahwa beliau biasa menggunakan benda-benda dari non-muslim. Misalnya, Rasulullah SAW mengutus dua orang sahabat pergi ke negeri Yaman untuk mempelajari pembuatan senjata. Padahal Yaman pada waktu itu masih kafir. Senjata itu termasuk teknologi, dan teknologi merupakan hasil dari ilmu.

Maka, sangat penting bagi kaum Muslim untuk selalu membiasakan mengambil ilmu pengetahuan segenap tenaga mereka, karena ia merupakan sarana kehidupan.

Prakteknya

Contoh kasusnya, apa hukumnya belajar ilmu akuntansi? Seperti halnya cara menghitung ROI, BEP, profit gitu? Yah boleh-boleh saja. Asalkan, tidak didasari tsaqafah asing.

Misalnya, Anda kulakan madu 10 lusin harganya Rp3.840.000. Besoknya, Anda jual lagi ke orang lain, dan semuanya laku, ludes, dengan harga Rp6.720.000. Nah, gimana ngitung profitnya? Yah pakai ilmu. Rupa ilmunya itu, yah tinggal dikurangi saja harga jual produk dengan modal kulakan. Rp6.720.000 dikurangi Rp3.840.000, sama dengan Rp2.880.000. Untungnya segitu, Rp2.880.000.

Nah, itulah praktek ilmu.

Tapi, yang menjadi pertanyaan… untuk apa dia nyari untung (duit)? Yang dia yakini, nanti sebaiknya dan seharusnya duitnya itu dipakai untuk apa? Apakah dalam rangka menafkahi keluarga, seperti yang diwajibkan dalam Islam? Atau dalam rangka buat ‘jajan’ ke tempat pelacur, seperti halnya penganut paham hedonisme? Nah, pandangan hidup dan keyakinan itulah, praktek tsaqafah.

Artikel Lainnya:  Allah adalah Dzat yang Hakiki, Dan WujudNya Bisa Dirasakan. Bukan Sekedar Khayalan dalam Otak Manusia

Contoh kedua nih. Coba deh lihat seorang insinyur yang sedang mengerjakan suatu proyek. Dia berusaha mempelajari ilmu, mempraktekkannya, kan karena dorongan tsaqafah. Misal, dia punya hutang. Dia punya keyakinan bahwa bayar hutang itu hukumnya wajib. Kalau tidak, bisa bahaya nanti kondisinya di Akhirat. Makanya dia giat berilmu, biar proyeknya kelar, komisi turun, terus bisa bayar hutang.

Contoh ketiga nih. Kita mau olahraga. Ntah jogging, main futsal, dll. Kalau kita yang ber-tsaqafah Islam, bisa jadi mau main futsalnya itu dalam rangka ikhtiar agar sehat. Karena misal kalau peredaran darah lancar, kan jadinya nggak mudah ngantuk-an. Kalau gampang ngantuk kan kadang mengganggu kita ketika lagi ibadah, kajian, dan dakwah. Pun, tata cara main futsalnya dipastikan syar’i. Misal, tutup lutut. Karena lutut aurat kan? Jangan main judi. Dan jangan bawa-bawa cewek buat nge-cheers. Dan lain-lain.

Ingatlah Tutup Lutut Ketika Main Futsal, Karena Lutut Itu Termasuk Aurat

Kalau yang nggak ber-tsaqafah Islam? Yah ntah apa dorongan olahraganya, pun tatacaranya asal-asal aja. Main futsal lututnya nggak ditutup, malah kelihatan. Udah gitu sambil berkata-kata kasar dan kotor apabila dirinya sedang terpojok. Sambil main judi lagi. Kalau Jogging, matanya ngelirik-lirik ‘yang bukan haknya’, dan sebagainya.

Contoh lainnya lagi. Ada 2 negeri yang sama-sama giat menemukan teknologi baru. Namun negeri yang satu sebab rajin berilmunya karena untuk memudahkan dakwah dan jihad. Sedangkan negeri yang satunya lagi sebab rajin berilmunya karena untuk memudahkan penjajahan dan perampokan sumber daya alam negeri lain. Yang satu mengemban tsaqafah Islam, yang satunya lagi mengemban tsaqafah kapitalisme dan imprealisme.

Makanya masalah besar kita saat ini, banyak umat muslim yang belum benar-benar 100% mengemban tsaqafah Islam. Sebaliknya, kok malah mengemban tsaqafah asing. Sehingga jadi ‘keblinger’.

Kesimpulannya

Intinya, ada 3 aspek yang membedakan antara ilmu dengan tsaqafah:

  1. Aspek epistemologinya (metode memperoleh pengetahuan).
    • Ilmu diperoleh dari metode ilmiah yaitu melalui observasi, eksperimen ilmiah, dan inferensi terhadap benda-benda material (dalam laboratorium).
    • Sebaliknya, tsaqafah diperoleh bukan dari metode ilmiah. Melainkan metode rasional berupa penyampaian informasi (misalnya dalam akidah Islam), penyampaian trasmisional (misalnya ilmu tarikh, riwayat hadis), dan penyimpulan dari pemikiran (misalnya fiqih Islam).
  2. Aspek nilainya (kaitannya dengan nilai kehidupan).
    • Ilmu bersifat bebas nilai dan universal.
    • Sedangkan tsaqafah tidak bebas nilai, dan juga tidak universal.
  3. Aspek adopsi.
    • Ilmu dapat diadopsi oleh umat Islam dari manapun sumbernya, walaupun dari bangsa non-Muslim.
    • Sebaliknya, tsaqâfah tidak boleh diadopsi dari non-Muslim, karena pasti mengandung pandangan hidup yang bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam.

Begitulah.. semoga, dengan klasifikasi ini menjadi bekal yang sangat berharga dalam rangka menjaga kelangsungan umat muslim agar senantiasa hidup Islami.

BAGIKAN
Dani Siregar
Al-Faqir ilAllah. Menekuni dunia blogging dan Search Engine Optimization Marketing sejak tahun 2011. Suka martabak dan es krim. Hidup untuk mabda' Islam.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar