Bagaimana Cara Membedakan Komentar Orang yang Harus Diabaikan, dan yang Harus Didengarkan? Begini 5 Caranya

Bagaimana Cara Membedakan Komentar Orang yang Harus Diabaikan, dan yang Harus Didengarkan Begini 5 Caranya

Ntah kenapa ada orang-orang yang suka banget mengomentari apa-apa yang kita lakukan, sehingga sebagian dari kita ada yang jadi stress, karena terlalu mikirin apa omongan orang lain tersebut.

Apakah Anda punya pengalaman serupa?

Misalnya:

  • Orang lain mengomentari style pakaian Anda yang aneh. Harusnya jangan begitu, tapi begini-begini..
  • Misalnya Anda memilih kuliah jurusan Akuntansi di UI, meskipun Anda lulus STAN. Tapi orang lain malah mengomentari, “Bego banget ya masak pilih UI daripada STAN.. Harusnya STAN lebih bagus..”
  • Anda ingin fokus membangun usaha, sehingga Anda tidak melamar kerja. Kemudian orang lain mengomentari, “Ih sarjana masak jualan-jualan gitu…?!”
  • Anda tidak mau ikut program KB, Leasing, KPR; karena Anda paham bahwa yang itu tidak boleh menurut Islam. Namun ada tetangga berkomentar, “Aneh ya mereka itu.. mempersulit diri ajah…”
  • Dan lain-lainnya.. yang intinya ntah kenapa  banyak sekali orang lain dan sering mengomentari Anda, “Ih masak dia begitu, harusnya begini…” atau yang semacamnya.

Memang fenomena tersebut cukup membingungkan.

Namun, persoalannya, kadang komentar orang lain itu nggak ada gunanya sama sekali, malah bikin tambah masalah. Maka, nggak usah didengarkan. Abaikan saja. Tapi, kadang ada pula komentar orang lain yang ternyata ada benarnya juga apa yang ia katakan itu, meskipun awalnya kita rasa tidak enak. Sehingga kita bersyukur untung saja dia mengingatkan kita sedari awal.

Nah, terkait hal tersebut, bagaimana cara membedakannya? Antara komentar yang harus kita abaikan, dengan komentar yang harus kita pedulikan?

Setidaknya, menurut saya, hal ini bisa ditinjau dari 5 hal:

  1. Lihat kecintaannya kepada Anda
  2. Lihat efektivitas dan efisiensinya
  3. Lihat hukum syara’-nya
  4. Kalau hukumnya mubah, dan bukan persoalan efektivitas dan efisien; terserah Anda saja
  5. Lihat apa kepentingannya mengurusi urusan tersebut

Berikut ini rinciannya:

1. Lihat kecintaannya kepada Anda

Nah, apabila ada seseorang yang suka mengomentari Anda, maka perhatikanlah bagaimana kecintannya kepada Anda. Apabila dia cinta dengan Anda, maka ada baiknya Anda pertimbangkan komentarnya. Apa bila tidak, mungkin boleh Anda abaikan.

Ciri-ciri orang yang cinta pada Anda, dia akan sangat sedih dan khawatir kalau Anda celaka. Kalau Anda gagal, dia ikut sedih. Namun kalau Anda berhasil, dia akan ikut senang dengan Anda.

Sebaliknya, ciri-ciri orang yang tak cinta pada Anda, dia tidak peduli apabila Anda berhasil maupun gagal. Kalau Anda berhasil, dia tidak suka dengan hal itu. Kalau Anda gagal, bahkan dia senang. Orang yang seperti itu, patut dipertanyaan kepentingannya mengomentari Anda itu atas dasar apa. Mungkin bisa Anda abaikan saja.

Nah, dengan begini, insya Allah kita akan lebih cerdas dalam menyikapi omongan-omongan orang yang menghampiri kita. Omongan dari siapa yang sepertinya harus kita pertimbangkan, dan omongan dari siapa yang sepertinya boleh langsung kita cuekin aja, nggak usah didengerin.

Artikel Lainnya:  12 Hal yang Tak Akan Dilakukan Seorang Ayah yang Baik

2. Lihat efektivitas dan efisiensinya

Apabila kita hendak ataupun sedang berusaha melakukan sesuatu, demi tujuan tertentu; kadang ada juga yang mengomentari usaha kita tersebut. Katanya cara kita tersebut salah, atau kurang tepat. “Yang benar itu yang begini begini begini..”, katanya.

Nah, terkait hal ini, maka ada baiknya Anda perhatikan komentar dia. Bandingkan dengan usaha yang akan atau sedang Anda kerjakan. Kira-kira, lebih efektif dan efisien yang mana?

Tentunya hal ini membutuhkan peran pakar dan orang yang berpengalaman. Maka perhatikanlah, siapa di antara Anda dan dia yang lebih pakar dan berpengalaman? Maka seharusnya yang lebih pakar dan berpengalaman tersebut yang lebih mengerti mana yang lebih efektif dan efisien.

Kalau Anda dan dia sama-sama bukan pakar, maka ada baiknya tanya ke pihak lain yang memang pakar.

Siapa yang bisa menjelaskan argumentasi yang kuat terkait efektivitas dan efisiensi suatu cara, maka komentar dialah yang patut Anda adopsi.

3. Lihat hukum syara’-nya

Sejatinya manusia itu lemah, banyak nggak tahu apa-apanya. Kalau pun manusia itu punya pengetahuan, sejatinya itu semua berasal dari Allah Swt. Allah Swt Maha Mengetahui, Yang Memiliki Segala Ilmu.

Maka, bisa dipastikan akan ada banyak masalah yang mana manusia-manusia berselisih terhadapnya. Manusia yang satu mengatakan bahwa yang benar itu begini begini dan begini. Sedangkan manusia yang satunya lagi mengatakan bahwa yang benar itu begitu begitu dan begitu.

Untuk itulah, Islam turun untuk menyelesaikan sengketa yang begitu. Agar kita semua memutuskan perkara menurut apa yang Allah turunkan, tidak mengikuti hafa nafsu semata.

Maka, tatkala Anda dan orang lain mempersoalkan sesuatu, yang benar itu bagaimana; lihatlah hukum syara’.

Jangan terima komentar orang lain yang hanya meninjau berdasarkan empiris saja. Yang nomor satu harus kita emban adalah argumentasi syar’i.

Meskipun komentar orang lain itu menjelaskan cara yang mungkin baginya lebih efektif, efisien; namun kalau cara tersebut tidak syar’i, ngapain diikuti?

Karena kelak setiap usaha kita akan dihisab oleh Allah di Akhirat kelak, hendaklah kita memastikan setiap aktivitas kita itu halal dilakukan. Terlebih lagi, dibangun berdasarkan argumentasi yang shahih.

4. Kalau hukumnya mubah, dan bukan persoalan efektivitas dan efisiensi; terserah Anda saja

Ada hal-hal tertentu yang Anda bebas saja mau tetap ikuti kehendak Anda sendiri, atau ikuti apa kata orang lain. Yaitu, terkait persoalan yang jelas hukumnya mubah, dan tidak terkait efektivitas dan efisiensi.

Artikel Lainnya:  7 Cara Menghadapi Mertua yang Cerewet

Misalnya, saat hendak menghadiri suatu acara, Anda mau pakai baju kemeja. Namun ada orang lain mengomentari, Anda aneh kalau pakai kemeja. Mending pakai batik.

Nah, sejatinya kan pakai baju kemeja itu hukumnya mubah. Pakai baju batik juga mubah. Dan tidak ada hubungannya pula terkait efektivitas dan efisiensi. Maka, hal ini bebas saja Anda mau ikutin yang mana. Mau tetap pakai baju kemeja boleh, pakai baju batik boleh.

Biasanya hal sederhana ini suka dibikin ribet oleh sebagian oknum perempuan. Tatkala seseorang pakai kerudung warna putih terus, tiba-tiba ada temannya yang berkomentar, “Ih lihat deh dia kerudungnya itu-itu melulu, cuci-kering cuci-kering! Hahaha!” Sehingga akhirnya dia terpaksa mengeluarkan duit tabungannya buat beli kerudung warna hitam.

Hah, padahal tidak ada masalahnya mau pakai kerudung warna putih ataupun hitam. Toh mau putih atau hitam itu mubah-mubah saja. Yah terserah saja mau pakai yang mana. Tidak usah terlalu dibikin ribet.

Jika  memang mubah, bukan soal efektif dan efisien; maka Anda bebas saja mau gimanapun juga. Nggak usah terlalu dengerin kata orang lain juga nggak apa-apa.

5. Lihat apa kepentingannya mengurusi urusan tersebut

Poin kelima ini mungkin mirip dengan poin nomor keempat di atas. Iya, ketika kita memilih sesuatu, kemudian orang lain mengomentari pilihan kita tersebut; lihatlah apa kepentingan mengurusi hal tersebut.

Kalau nggak penting, nggak usah dibahas. Kalau penting, maka simak dengan 4 tinjauan yang disebutkan sebelumnya di atas.

Misalnya, Anda mengatakan bahwa mie rebus itu lebih enak daripada mie goreng. Kemudian ada orang lain yang menyanggah, bahwa justru mie goreng itu yang lebih enak daripada mie rebus.

Nah, kalau persoalannya tersebut, jangan dibikin ribet. Nggak usah dibahas pun nggak apa-apa. Nggak ada kepentingannya kita membahas hal tersebut.

Anehnya ada orang yang terjebak dengan pembahasan yang nggak ada kepentingannya. Misalnya, enakan mana anime atau film holly wood. Gara-gara itu, jadi betekak. Ah, padahal nggak ada kepentingannya.

 

Nah, begitulah kurang-lebih 5 cara untuk membedakan komentar orang lain yang mungkin harus Anda perhatikan, dengan komentar orang lain yang mungkin boleh Anda abaikan.

Dengan begini, insya Allah kita akan lebih bijak. Sehingga setelah ini kita tidak perlu terlalu galau terhadap omongan orang lain, kalau memang omongannya itu tak layak jadi pertimbangan kita. Mungkin dicuekin saja, nggak apa-apa.

Namun juga sebaliknya, kita perlu juga legowo, apabila ternyata komentar orang tersebut layak kita jadikan pertimbangan.

BAGIKAN
Mufakir adalah seorang otaku tobat yang merasa dirinya masih belum banyak bermanfaat bagi orang lain, dan berusaha selalu ingin bermanfaat bagi orang lain. Baginya sukses itu sederhana, yaitu hari ini lebih baik dari hari kemarin. Passion menulis artikel seputar motivasi dan produktivitas.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar