Menuntut Hak Memang Lebih Mudah daripada Menunaikan Kewajiban, Ini 7 Contoh Kita Sering Melakukan Hal Salah Tersebut

Sumber: Pixabay

Ada berbagai macam hubungan:

  • Anak dan orang tua
  • Suami dan istri
  • Sahabat
  • Kakak-adik
  • Atasan dan bawahan
  • Guru dan murid
  • Tetangga
  • Rekan kerja
  • Rekan organisasi
  • Penjual dan pembeli
  • Investor dan pengelola
  • Dan lain-lain sebagainya..

Nyaris selalu, hubungan apapun pasti ada masalah. Biasanya, karena persoalan menuntut hak diri sendiri, dan menuntut kewajiban orang lain; yang notabene biasanya suka kebalik-balik.

Ada baiknya, kita evaluasilah diri kita sendiri, agar lebih sadar diri menunaikan kewajiban kita dan hak orang lain.

Nah, berikut ini merupakan beberapa contohnya.

1. Kalimat “Orang tua sudah susah payah membesarkan dan mendidik anak, maka harus senantiasa dihormati” itu jangan dipakai si ibu untuk menuntut haknya. Melainkan dipakai oleh si anak untuk menunaikan kewajibannya.

Iya, kadang ada seorang ibu yang memarahi anaknya, sambil mengatakan yang kurang-lebih, “Awas Kamu durhaka ya! Kamu ini sebagai seorang anak harusnya hormat dengan orang tua loh!”.

Padahal, sejatinya perkataan tersebut jangan dipakai oleh si ibu. Harusnya, kalimat tersebut dipakai si anak untuk sadar diri. “Wah hati-hati aku nih bisa durhaka.. sebagai seorang anak harusnya aku hormat dengan orang tuaku..”

2. Kalimat “Anak itu adalah titipan, maka harus dijaga sebaik mungkin” itu jangan dipakai si anak untuk menuntut haknya. Melainkan dipakai oleh si ibu untuk menunaikan kewajibannya.

Ada juga seorang anak yang bertengkar dengan orang tuanya sembari berkata, “Anak itu harus diperlakukan dengan baik-baik! Jangan sembarangan! Anak itu titipan dari Allah looh..!!”

Terbalik itu. Harusnya, kalimat tersebut dipakai oleh sang orang tua. “Anak itu adalah titipan Allah. Sejatinya ia milik Allah. Bukan milikku. Maka yang namanya titipan harus kujaga dan kuperlakukan sebaik mungkin..”

3. Kalimat “Tamu itu harus dilayani sebaik mungkin” itu jangan dipakai oleh si tamu untuk menuntut haknya. Melainkan dipakai sang tuan Rumah untuk menunaikan kewajibannya.

Adalah aneh apabila saat ada tamu yang datang ke Rumah seseorang, kemudian tamu itu bilang, “Hei minuman dan makanannya mana nih! Teh manis atau syrup gitu kek! Biskuit atau gorengan gitu kek! Hormati tamu dooong!! Pahalanya gede!!”. Aneh kan?

Harusnya, mindset tersebut dipakai oleh sang tuan Rumah. “Wah dia udah jauh-jauh ke sini, pasti capek.. Aku harus memberikannya tempat yang sangat nyaman, dan menghidangkan jamuan yang terbaik..”.

4. Kalimat “Sebagai seorang tamu, nggak boleh merepotkan dan membebankan tuan Rumah.” itu jangan dipakai tuan Rumah untuk menuntut haknya. Melainkan dipakai si tamu untuk menunaikan kewajibannya.

Aneh pula seandainya seseorang kedatangan tamu, ia berkata pada tamunya, “Heh, duduknya yang bener! Jangan sembarangan gitu! Nanti berantakan nih Ruang Tamunya! Tamu itu harusnya sopan, jangan bikin orang repot dan terbebani ya! Bukannya bawa oleh-oleh, malah ngerepotin!”

Artikel Lainnya:  7 Cara Melatih Kesabaran, Banyak yang Gak Praktekkan Ini Jadi Sering Stress

Ini pun kebalik. Harusnya, mindset tersebut dipakai oleh si tamu. “Duh aku segan nih kalau pakaianku bau gini.. Nggak enak juga kalau ke Rumahnya nanti nggak bawa apa-apa..”

5. Kalimat “Suami adalah Imam, harusnya bisa mendidik istri, harus menyayangi istri, harus memelihara istri!” itu jangan dipakai sang istri untuk menuntut haknya. Melainkan dipakai sang suami untuk menunaikan kewajibannya.

Ini pun bukannya tidak jarang. Seorang istri ngambek karena suaminya melalaikan kewajiban terhadap istrinya. Meski memang wajar, hanya saja lebih baik apabila sang suami yang sadar diri menunaikan kewajibannya.

Sang suami harusnya yang merenungkan hal tersebut, “Aku adalah imam. Aku bertanggungjawab atas istriku. Aku harus senantiasa menyayanginya, mendidiknya, dan mencukupi kebutuhannya..”

6. Kalimat “Istri harus hormat, patuh, dan mampu menyenangi suami. Jangan malah menyusahkan suami.” itu jangan dipakai sang suami untuk menuntut haknya. Melainkan dipakai sang istri untuk menunaikan kewajibannya.

Ada juga suami yang sebel dengan istrinya, karena bukannya malah bikin senang tapi malah bikin repot.

Nah, maka dari itu, ada baiknya sang istri yang sedari awal melek akan kewajibannya. Begitu pula suami, seperti yang dijelaskan pada poin sebelumnya.

Sebetulnya indah apabila masing-masing suami dan istri saling paham apa saja kewajibannya, dan apa saja hak pasangannya. Karena memang inilah satu hal penting yang perlu dipersiapkan sebelum menikah.

Makanya aneh kalau orang menikah tapi kok nggak paham nanti kewajibannya sebagai suami/istri itu apa-apa saja. Karena menikah itu artinya siap mengemban kewajiban tersebut.

7. Kalimat “Dosen itu harusnya bisa membuat muridnya paham dan bisa, bukannya malah mempersulit, dan opurtunis.” itu jangan dipakai sang mahasiswa untuk menuntut haknya. Melainkan dipakai sang dosen untuk menunaikan kewajibannya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa seorang dosen itu sering menjadi bulan-bulanan oleh para mahasiswa. Karena, para mahasiswa merasa dosennya tak optimal menunaikan kewajibannya, dan mereka merasa haknya sebagai mahasiswa tak optimal didapat.

Maka dari itu ada baiknya sang dosen proporsional mampu membuat mahasiswa mudah paham dan bisa. Pun mahasiswanya juga harus proporsional, jangan melamun dan macam-macam saat sang dosen tengah menjelaskan. Dan maulah inisiatif juga, apabila tidak paham; maka bertanya.

Karena bisa jadi sang dosen memang ingin membuat agar sang mahasiswa jadi lebih mandiri, jangan lagi seperti anak SMA.

Artikel Lainnya:  Jika Kamu Ingin Menjadi Istri yang Tangguh, Belajarlah dari Kisah Siti Hajar Ini

Begitulah…

Setidaknya, itulah 7 contoh problem yang sering terjadi pada berbagai hubungan, karena terbalik-balik pakai mindset penuntutan hak dan kewajiban.

Maka sebetulnya kata kuncinya adalah inisiatif. Kalau kita semua inisiatif menunaikan kewajiban, insyaAllah masalah yang demikian bisa berkurang terjadi. Selain itu, kita pun juga harus sabar sembari menunggu hak kita.

Semoga dari 7 contoh tersebut, Anda bisa paham pula dengan kasus pada hubungan-hubungan lainnya. Seperti misalnya:

  • Hak dan kewajiban masing-masing rekan kerja
  • Hak dan kewajiban atasan dan bawahan
  • Hak dan kewajiban antar tetangga
  • Hak dan kewajiban kakak dan adik
  • Hak dan kewajiban investor dan pengelola
  • Hak dan kewajiban penjual dan pembeli
  • Hak dan kewajiban aparat dan masyarakat
  • Dan sebagainya..

Tentunya bukannya kita tak usah mengingatkan kewajiban orang lain. Tentu ada kalanya memang kita harus mengingatkannya. Kalau kita tidak saling mengingatkan, bisa-bisa kerusakan akan terlestari dimana-mana. Hanya saja, ingatkanlah dengan cara yang santun. Tentunya, dalam rangka cinta, bukan dalam rangka dengki. Bukan dipakai untuk menuntut sembari lupa kewajiban diri sendiri. Melainkan hanya sekadar mengingatkan bahwa hal itu kewajiban, dan kewajiban itu bila dilalaikan maka berdosa. Kita kasihan kalau dia berdosa. Ingat, dalam rangka kasihan padanya seperti itu, bukan dalam rangka dengki.

Itu sebabnya, perlu dicamkan baik-baik, setelah membaca artikel ini, kita harus lebih inisiatif dan melek terhadap kewajiban kita dan hak orang lain. Dan, harus juga sabar apabila hak kita belum kita dapatkan. Jangan sampai justru setelah baca ini malah jadi panas dan masih suka kebalik-balik mindset-nya.

Dan satu lagi yang terpenting, mungkin setiap kita memiliki ketentuan tersendiri apa saja hak dan kewajiban tersebut. Sejatinya, setiap hak dan kewajiban tersebut harus dikembalikan sebagaimana yang ditentukan oleh Yang Maha Tahu, Yang Menciptakan kita; yakni Allah Swt. Yaitu, syariatNya. Karena kalau setiap orang bebas menentukan sendiri hak dan kewajibannya, pasti kekacauan akan terjadi dimana-mana, dan tak akan selesai-selesai sampai mati, bahkan sampai Kiamat.

Nah, begitulah kurang-lebih persoalan tuntut-menuntut tak proporsional yang biasa terjadi di sekeliling kita, yang notabene mungkin sebagiannya kita alami. Semoga dengan begini kita jadi lebih melek kewajiban diri sendiri, terutama diri saya pribadi.

Semoga bermanfaat… 🙂

Oh iya, barangkali Anda ada contoh lain? Kalau ada, silahkan Anda tambahkan di kotak komentar di bawah ini ya.. 😀

Suka konten-konten TeknikHidup ini?


BAGIKAN
Mufakir adalah seorang otaku tobat yang merasa dirinya masih belum banyak bermanfaat bagi orang lain, dan berusaha selalu ingin bermanfaat bagi orang lain. Baginya sukses itu sederhana, yaitu hari ini lebih baik dari hari kemarin. Passion menulis artikel seputar motivasi dan produktivitas.