Orang yang Baca Buku Itu Bakal Lebih Maju? Kelebihan Baca Buku Dibandingkan Media Pembelajaran yang Lain

Sebenarnya udah banyak yang bahas alasan kenapa kita harus membaca buku. Misalnya seperti ini:

Saya pingin nambahin 2 alasan lagi aja, terkait alasan mengapa kita mesti rutin baca buku beserta manfaatnya, di samping yang udah dijelasin di video-video lain.

Kayaknya, 2 alasan ini belum ada yang bahas. Yaitu….

1. Buku itu sering menjadi jajaran rujukan utama, sehingga bisa jadi kita akan ‘selangkah’ (atau bahkan beberapa langkah) lebih maju

Kalau temen-temen sekalian suka lihat video-video YouTube begitu, itu sering banget lho, sebenarnya salah satu sumber referensinya itu yaa dari suatu buku. Begitu juga konten lainnya, di Podcast, Carousel Instagram, infografis, artikel, dan lain-lain itu; itu kebanyakan dikutip dari buku-buku.

Kayak kemarin saya lihat:

  • Ada postingan IG Carousel yang membahas cara menghilangkan kebiasaan buruk, itu materinya, ternyata, disadur dari buku Atomic Habits.
  • Ada juga postingan soal keuangan, ternyata disadur dari buku Rich Dad Poor Dad. Dan lain-lain lah, saya nggak inget semuanya. Dan lain-lain lah yaa. Saya nggak inget semuanya.
  • Ada lagi yang belum lama ini, konten di Instagram atau YouTube atau podcast gitu, yang membahas fenomena healing pada Gen Z. Ternyata, itu pembahasannya, ada yang megutip dari buku Strawberry Generation.

Jadi banyak konten-konten yang berseliweran di internet itu, disadurnya dari buku. Maka, jika kita baca buku, insyaAllah kita bisa lumayan agak lebih maju dibandingkan yang lainnya. Karena katanya, nggak banyak orang yang suka baca buku. Ada beberapa versi data, nanti link-nya saya cantumi di deskripsi. Ada yang bilang hanya 0,001% yang suka baca buku, ada yang bilang 0,01%. Ada juga yang bilang, Indonesia peringkat ke-60 dari total 61 negara yang disurvey.

Yaa, walaupun di sisi lain, nggak suka baca buku bukan berarti nggak suka belajar yaa. Bisa aja preferensi media pembelajarannya lain. Beda selera dan cocok-cocokan juga soal cara belajar. Mungkin lebih suka nonton video, dengerin podcast, scroll-scroll IG & TikTok, dan lain-lain.

Cuman, ada kemungkinan yaa, istilahnya, kalau kita baca buku dibandingkan nyimak konten selain buku maka kita bisa jadi lebih duluan dapat suatu ilmu, karena kan ilmu itu duluan hadir di bukunya dulu kan baru kemudian hadir di konten-konten lain yang menyadur isi buku tersebut.

(Walaupun lagi, nggak menutup kemungkinan sih, di zaman sekarang, justru ada kontennya dulu baru ada bukunya. Kayak misalnya buku Seth Godin, dan lain-lain gitu, kadang duluan ada konten non-bukunya dulu lalu kemudian dijadiin buku.)

Setidaknya peluang gitu. Karena memang, meskipun buku itu merupakan salah satu jejeran rujukan utama, masih ada lagi sih yang lebih top utama. Yaitu, jurnal-jurnal gitu. Publikasi ilmiah gitu. Kayak skripsi, tesis, disertasi, report hasil penelitian, dan sebagainya gitu. Atau yang kadang jauh lebih utama lagi, yaa justru apa yang dilakukan seseorang. Keteladanannya, keputusannya, prakteknya, opini yang disampaikannya, wisdom, hal-hal yang tersirat, kadang belum ‘dibukukan’.

Tapi paling nggak, walau buku itu bukan sumber yang nomor 1 banget, paling nggak dia cukup sering, berada di jejeran utama. Kalau bukan yang nomor 1, paling nggak lumayan deket lah dengan yang di nomor 1. Ntah mungkin dia nomor 2, nomor 3, atau berapa lah gitu masih di jejeran utama.

Jadi itu tadi tadi yaa, kelebihannya temen-temen yang suka baca buku, ada kemungkinan bisa lebih maju. Walau tentunya kalau soal maju, ada faktor lainnya juga yaa. Kayak dipraktekin, konsisten, resource, dan sebagainya.

2. Pembahasan di buku itu biasanya lebih lengkap dibandingkan konten-konten lainnya

Nah, termasuk… kemudian satu lagi nih… Logikanya, kalau kita baca buku dibandingkan konten pembelajaran lainnya, biasanya, di buku itu jauh lebih detail dan mendalam. Misalnya, kalau di konten video YouTube, TikTok, Instagram; mungkin hanya membahas A, B, C. Tapi, giliran kita buka bukunya, ternyata pembahasannya ada A, B, C, D, E, F terus sampai Z. Ternyata lebih lengkap. Lebih komprehensif.

Biasanya yaa, walaupun di beberapa kasus, kadang penjelasan atau ‘tafsir’ dari penulis buku itu kadang lebih lengkap lagi.

Nah, itu tadi, di buku lebih komprehensif. Terutama buat temen-temen yang memang ingin mendalami suatu topik. Ntah itu tentang misalnya manajemen cashflow, arsitektur, ilmu branding, parenting, leadership, manajemen waktu, sejarah tertentu, ushul fiqih, dan lain-lain; sebaiknya ambil opsi media pembalajaran dari buku juga. Jangan sekadar belajar dari kayak video YouTube, Podcast, dan sebagainya gitu. Karena pasti di buku lebih mendalam itu tadi kan.

Kecuali, kalau memang nggak ada rencana untuk mendalami persoalan itu. Kayak misalnyaa, saya profesinya wiraswasta. Penting juga saya belajar soal akuntansi, pajak, dan lain-lain. Tapi, mungkin saya nggak bakal terlalu dalam soal itu. Bukan mau jadi akuntan & konsultan pajak kan, karena memang bukan itu profesi saya. Maka, nggak apa-apa mungkin belajar soal akuntansi & pajak itu cukup dari konten-konten siangkat aja di YouTube, podcast, webinar, dan sebagainya. Atau mungkin baca bukunya juga, tapi hanya beberapa buku aja. Dan agak santai nggak sering-sering. Bahkan mungkin cukup nyimak resume bukunya saja dari orang yang udah baca. Nggak kayak kalau misalnya saya ingin fokus di marekting & branding, karena memang keseharian saya aktivitasnya di bidang itu, maka mesti bener-bener mendalami, mesti baca banyak dan sering-sering lah buku soal marketing & branding itu.

Bahkan, lebih dari 1. Makin banyak, makin bagus. Misalnya soal Leadership, paling nggak, bacalah 2-3 buku soal leadership. Misalnya dalam waktu beberapa bulan atau bahkan dalam setahun. Kalau mau lebih agak ekstrim, baca belasan buku, bahkan 20 buku. Belasan buku atau 20 buku itu semuanya tentang leadership. Kayak misalnya Ustadz Felix Siauw, kalau saya nggak salah ingat yaa, soalnya udah lama, itu ternyata beliau sebelum menulis baca soal Muhammad Al-Fatih, beliau itu baca dulu buku-buku tentang Muhammad Al-Fatih lainnya. Kalau nggak salah, hampir 10 buku, atau belasan buku, atau sekitar 20 buku gitu.

Nah, kesimpulannya. Setidaknya ada 2 hal kelebihan media pembelajaran berupa buku dibandingkan yang lainnya.

  1. Bisa jadi kita lebih maju, dibandingkan kalau media pembelajarannya hanya video YouTube, Carousel Instagram, TikTok, Kuliah WhatsApp, dan sebagainya.
  2. Materi yang di buku itu biasanya lebih mendalam dan lebih lengkap.

Referensi data minat baca buku di Indonesia:

  • https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/02/04/kegemaran-membaca-penduduk-indonesia-masuk-kategori-sedang
  • https://zilbest.com/education/reading-culture/
  • https://www.liputan6.com/health/read/3412326/hanya-1-dari-10000-anak-indonesia-yang-suka-baca
  • https://www.republika.co.id/berita/oapnju313/dari-5715-orang-hanya-1-yang-baca-buku
  • https://www.suara.com/lifestyle/2018/02/21/173000/miris-minat-baca-masyarakat-indonesia-hanya-001-persen
  • https://www.dpr.go.id/berita/detail/id/32739/t/Minat+Baca+Bisa+Tingkatkan+Kesejahteraan
  • https://www.flat-uinjkt.web.id/culture-reading-books-in-indonesia-and-japan/
  • https://kabartrenggalek.com/2022/05/menyoal-rendahnya-minat-baca-masyarakat-di-hari-buku-nasional-17-mei-2022.html
  • https://www.republika.co.id/berita/r6brb5314/minat-baca-warga-indonesi-terendah-di-dunia
  • https://bisniskumkm.com/harbuknas-2022-literasi-indonesia-peringkat-ke-62-dari-70-negara/