Mendingan Mana? Branding Dulu, Atau Selling Dulu?

Sebenarnya normalnya, yang namanya bisnis itu yaa pasti ngejalanin branding & selling sekaligus di awal-awal berdiri. Pasti itu.

Selling itu pasti dilakukan setiap hari (atau setiap hari kerja).

Kalau nggak selling, nggak bakal ada uang masuk kan.

Nah, kalau branding.. branding itu pun sebenarnya, kalau kita ‘nggak ngapa-ngapain’ (dalam tanda kutip), itu otomatis terjadi branding kok. Otomatis tercipta brand.

Misalnya, ada bapak-bapak jualan bakso, pakai topi, gerobaknya warna hijau, di depan Rumah Sakit Citra Medika. Nah, maka, brand dari usaha beliau itu, yaa Bakso yang di Depan Rumah Sakit Citra Medika.

Jadi kalau misalnya ada temen kita yang ngajak kita ngebakso misalnya, dia bilang, “Bro, ngebakso yuk!”

Kita jawab, “Ayok! Mau bakso mana?”

Terus dia bilang, “Anu itu, Bakso yang di depan Rumah Sakit Citra Medika itu, yang gerobaknya warna hijau, yang jualnya bapak-bapak pakai topi. Yang ada kumisnya itu, bukan yang nggak berkumis yaa, dia gerobaknya warna biru, bukan yang hijau.”

Nah, itu kan udah tercipta brand kan.

Brand bisnis bakso itu adalah, bakso, yang yang di depan Rumah Sakit Citra Medika itu, yang gerobaknya warna hijau, yang jualnya bapak-bapak pakai topi dan berkumis, yang gerobaknya warna bitu.

Jadi walau ‘nggak ngapa-ngapain’ pun, branding itu otomatis terjadi.

Pokoknya terlepas apapun aktivitas kita, itu akan mengakibatkan tercipta sebuah brand. Terlepas aktivitas kita itu kita sebut memang melakukan branding, atau kita belum ada main branding-branding-an, cuman fokus selling dulu aja.

Jadi branding itu pasti otomatis jalan. Cuman yang ngejalanin bukan kita, yang jalanin orang lain.

Padahal mungkin sebenarnya nama Baksonya millenial. Tapi karena bahkan kata “millenial” itu nggak ditulis di Gerobaknya, yaa jadinya orang memberi namanya suka-suka.

Kenapa Bisa Muncul Pertanyaan Branding Dulu Atau Selling Dulu? Bisa Jadi, Karena Keliru Mendefinisikan “Branding” Mesti yang ‘Mewah-Mewah’

Branding itu kan aktivitas membangun brand.

Sementara brand itu artinya, persepsi/pemahaman seseorang tentang sesuatu. Kalau kita bicara produk, maka termasuk persepsi/pemahaman seseorang tentang produk yang kita jual.

Mungkin salah satu penyebab kenapa muncul pertanyaan “Branding dulu atau selling dulu” itu, karena orang kurang paham apa definisi branding & brand. Banyak yang memahami, branding itu artinya suatu campaign tertentu yang biasanya keren banget & mewah, & mengeluarkan budget yang gede’.

Kayak:

  • Logo yang sangat filosofis
  • Kemasan yang mewah
  • Bikin video cinematic
  • Buat foto-foto yang estetik
  • Kerjasama dengan artis
  • Dan lain sebagainya. Yang biasanya, biayanya gede’.

Kadang yang ‘mewah-mewah’ gitu yang disebut branding.

Kalau pemaahamannya tentang branding mesti begitu, jadi yaa wajar muncul pertanyaan apakah branding dulu atau selling dulu. Karena nggak cukup nih uang kita kalau branding gitu.

Itu mungkin sebabnya muncul pertanyaan branding dulu atau selling dulu, karena kurang paham definisi branding.

Branding Itu Apa?

Aktivitas branding itu sebenarnya, pokoknya kita ngapain aja, kemudian dari ngapa-ngapain itu, akan membuat orang memilki persepsi tertentu.

Itu salah satu yang sering disampaikan oleh Pak Subiakto, seorang praktisi branding lebih dari 50 tahun.

  • Persepsi orang itu tadi, itu yang disebut brand.
  • Kita dikenal orang sebagai apa, itu brand.
  • Reputasi kita, itu brand.
  • Image kita, itu brand.
  • Sebuah makna, itu brand.
  • How people trust us, itu brand.

Jadi, definisi branding itu adalah, segala aktivitas (termasuk komunikasi) untuk membangun, memperkuat, dan mempertahankan sebuah brand.

Branding By Design VS Branding By Accident

Jadi itu tadi yaa, yang namanya persepsi orang terhadap kita, itu pasti akan terbentuk. Terlepas ada yang terbentuk by design, & ada yang by accident (kebetulan).

Kalau by design, yaa sebagaimana yang dilakukan oleh Perusahaan-Perusahaan. Kayak Apple, Microsoft, Nike, Indomie, dan lain-lain.

Kalau by accident, yaa sebagaimana contoh gerobak bakso yang di depan Rumah Sakit Citra Medika tadi. Dan, mungkin kebanyakan UMKM-UMKM juga. Termasuk yang mengatakan fokus selling dulu aja.

Nah, maka dari itu, ada baiknya kita pilih yang branding by design. Jangan yang by accident.

Nggak bagusnya, kalau branding by accident, yaa hasilnya sangat random. Hasil finalnya, nanti apa kata orang lain gimana, yaa itu lah berarti brand kita. Kayak yang di analogi lemparan bola itu tadi.

Sementara, bagusnya, kalau branding by design, ada kemungkinan bisa membuat persepsi seseorang itu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Contohnya, yang dilakukan banyak Perusahaan:

  • Kalau kita bicara brand Apple itu kan think different, salah satunya. Jadi Apple itu untuk orang yang think different, yang ingin change the world. Sempat juga waktu itu kata-katanya, “making technology so simple, that everyone can be part of the future”. Dan itu terwujud dalam iPhone, MacOs, iOS, hardware & software yang eksklusif, dll.
  • ROG dari ASUS. Itu kan branding-nya, smartphone atau laptop yang untuk main game.
  • OPPO, Selfie Camera Phone. Atau Selife Expert. Dan sebagainya gitu.
  • Teh Pucuk Harum, teh yang diambil dari pucuknya.
  • Ramayana, keren itu hak segala bangsa. Keren itu hak alam semesta.
  • Nike. Dalam mitologi Yunani, Nike (yang berarti kemenangan) adalah dewi yang dihubungkan dengan kemenangan dan keberhasilan. Relate dengan brand ambasador beberapa atelet terkenal. Juga dengan logo centang, dan slogan “Just do it“. Juga, dengan logonya itu sendiri. Tanda centangnya itu, itu menggambarkan sayap pada patung Dewi Kemenangan itu tadi.
  • KitKat. Tahu KitKat? Coklat KitKat. Itu kan; brand yang ingin diciptakan, ketika orang sedang ingin atau butuh break, maka, dia butuh KitKat. Dia bakal beli KitKat. Bakal ngemil KitKat. Ntah itu break di Kantor, jam istirahat di Kampus, atau break dari aktivitas lainnya. Kayak kalau dulu masih ingat, iklan mencari pendekar golok emas. Sehingga perspesi yang diharapkan, yaa orang kalau break, maka dia pingin cobain KitKat.

Begitu pula contoh lainnya yaa.

  • Santai belum lengkap tanpa Silver Queen.
  • Taburkan misis ceres, taburkan cinta.
  • Okky Jelly Drink, penunda lapar.

Nah, itu komunikasi yang dibangun oleh Perusahaan-Perusahaan tersebut. Campaign komunikasi yang seperti itu, itu salah satu aktivitas branding.

Kemudian, jika persepsi yang tertanam di benak orang seperti apa, nah itu lah brand.

Jadi brand apa kata orang tentang kita, bukan apa kata kita tentang kita.

Walaupun yaa itu tadi, syukur-syukur apa kata orang tentang kita itu alhamdulillah-nya sesuai sebagaimana apa yang kita katakan tentang diri kita, via komunikasi campaign itu tadi.

Jangan sampai kejadiannya kayak yang contoh bakso tadi itu yaa. Yang nge-branding malah orang lain, jadi nggak sesuai ekspetasi kita. Padahal mestinya misal kita ingin brand baksonya bakso yang punya level pedas, atau mungkin bakso millenial, atau bakso yang apa gitu, tapi nggak tercipta brand-nya sesuai keinginan kita gitu. Karena aktivitas branding-nya nggak kita jalanin.

Makanya kalau kita nggak mau brand-nya kita jelek, nggak jelas; mesti kita rancang. Misalnya, kita pingin brand baksonya adalah bakso yang ada level pedasnya, atau bakso yang variannya ada banyak, ada yang pakai keju mozarella, isi daging sapi, dll.

Atau bakso yang untuk millenial & Gen-Z.

Atau tempat makan bakso sekaligus tempat nongkrong, yang instagramable.

Yaa macem-macem lah, silahkan di-design.

Contoh lain. Kalau misalnya pertama kali saya punya anak, istri saya melahirkan bayi, tapi kalau bayi itu belum diberikan namanya sebelum lahir, maka, si bayi itu bakal disebut anaknya Pak Dani. Misalnya dipanggil begitu oleh bidannya atau asistennya gitu. Diberi label bayinya Pak Dani. Tapi kalau misalnya saya beri nama, oh ini namanya Annisa. Nah maka itu akan lebih memungkinkan, dia bakal dipanggil yaa Annisa, dibandingkan dipanggil anaknya Pak Dani.

Makanya pentingnya aktivitas branding itu, yaa supaya apa persepsi orang terhadap kita itu, itu kita usahain sesuai dengan apa yang kita mau mestinya gimana. Maka kita upayakan melalui aktivitas-aktivitas branding kita.

Dan jika brand kita bagus, maka itu dampaknya bisa meningkatkan faktor konversi tanpa perlu gimmick diskon, bonus, dan sebagainya. Kita akan dipilih dibanding kompetitor lainnya. Termasuk membuat orang agar lebih loyal dengan kita, karena value brand kita sesuai dengan value kehidupan mereka. Dan lain-lain lah ya, terkait urgensi & dampak branding ini mungkin kita bahas di lain kesempatan yaa.

Jadi apa kata orang, nah itu lah brand.

….

Jadi….. kesimpulannya, yang mana dulu yang dijalanin? Branding dulu atau selling dulu?

Nah, sekarang, pertanyaannya… Kalau brand itu adalah persepsi orang, dan branding itu adalah aktivitas membentuk persepsi seperti itu; bisa nggak itu dilakukan berbarengan dengan selling? Butuh banyak duit nggak buat ngelakuin itu?

Ternyata, bisa-bisa aja lho. Dan ternyata, belum tentu juga mesti gede budget-nya.

Bahkan sebenarnya, aktivitas branding itu bukan cuman aktivitas buat campaign, berkomunikasi, menyampaikan pesan, buat konten gitu; bukan cuman itu kok.

Bahkan sekadar kualitas produk kita, dan pelayanan kita; itu udah branding lho.

Coba kalau misalnya, kita memilih tempat makan tertentu, karena enak, gurih, kejunya lumer, parkirnya mudah, pelayanan Mas-Mas & Mbak-Mbaknya ramah; nah itu sudah tercipta brand.

Kayak misalnya dulu sempat viral, kasus pegawai Zara katanya banyak yang jutek. Coba kalau misalnya ingin diperbaiki citra/brand tersebut. Apakah butuh buat konten video cinematic yang budget-nya puluhan juta? Apakah perlu nge-hire talent yang mahal gitu? Mesti kayak begitu baru disebut branding?

Ternyata, nggak mesti kan. Justru yang diutak-atik itu, bukan campaign-nya kadang. Bisa aja kadang mungkin lebih di operational, SOP, dan sebagainya itu yang diutak-atik kan? Karena kabarnya (ini agak ke luar topik yaa) salah satu alasan pegawainya jutek itu karena stress, pekerjaannya banyak. Nah berarti ini coba dicari solusinya mengatasi stress staff tersebut, agar pelayanan kita menjadi lebih baik, sehingga brand kita pun membaik.

Nah, balik lagi.. maka dari itu; pertanyaan yang mana duluan, branding atau selling…… sebenarnya dan normalnya, yaa keduanya itu bisa dijalanin kok.

Cuman memang, branding itu kan dari sisi teknis & taktisnya, banyak pilihan caranya. Mulai dari mungkin sekadar buat brosur gitu ya. Atau iklan digital, facebook ads, ig ads, google ads, tiktok ads, sampai ke yang bikin TVC atau kerjasama brand ambasador dengan tokoh/artis terkenal yang mungkin bisa puluhan juta sampai ratusan juga.

Itu soal agak ke taktis.

Tapi kan branding itu tidak bisa berdiri hanya sekadar yang taktis & teknisnya itu. Tapi justru lebih ke strategic bahkan filosofis itu yang lebih prioritaskan di-clear-kan.

Nanti yang taktis & teknis itu bisa mengikuti, dipilihkan saja yang mana yang efektif dan efisien, dan tentunya yang sesuai dengan kemampuan.

Nah, kalau soal strategic & filosofis gitu, mestinya bisa-bisa aja kita lakukan kan meski kita masih UMKM.

Jadi mungkin maksud pertanyaan di judul kita ini, bukan selling dulu atau branding dulu. Tapi, lebih tepatnya, selling dan branding ‘seadanya’ dulu atau selling dan branding yang bener-bener by design dan sangat settle?

Maka kalau sebagai UMKM (let’s said begitu), yaa bisa jadi yaa, jawabannya adalah selling sekaligus branding, tapi branding yang ‘seadanya’ dulu. Jadi bukan nggak ada branding sama sekali. Nol gitu, yaa jangan.

Kalau mau branding yang ‘seadanya’ dulu, budget-nya bisa aja cukup-cukup aja. Nggak selalu butuh budget gede’. Bahkan ada cara yang nyaris atau nggak pakai budget sama sekali. Seperti, buat konten carousel di Instagram, di TikTok, atau seperti memberikan pelayanan yang ramah dengan senyuman. Kayak yang baru-baru ini, saya ada pakai suatu jasa yang memuaskan banget. Padahal saya yang salah, tapi justru mereka yang mengatakan mereka yang salah & minta maaf. Itu kan branding juga. Dan luar biasa gitu. Saya jadi makin betah pakai jasa tersebut, saya jadi makin trust untuk mengamanahkan lebih banyak lagi ke mereka.

Nah, kalau gitu kan bisa barengan dengan selling, iya kan?

Kecuali kalau mau langsung branding yang bener-bener by design dan sangat settle itu tadi, berarti harus sedia resource buat riset-riset, bikin konten pakai agency; kalau kayak begitu yaa nggak semua UMKM bisa langsung di awal-awal buka usaha.

Satu hari ada 24 jam. Seminggu ada 7 hari. Tinggal diatur aja. Yaa tentunya di jam & hari kerja yaa, yaa tinggal diatur aja kapan selling & kapan branding gitu mau kapan aja.

____

Referensi:

  • https://glints.com/id/lowongan/branding-adalah/#.Ypl-Fp1ByiM
  • https://id.quora.com/Bagi-Pebisnis-Pemula-baiknya-pilih-Jualan-atau-Branding-dulu
  • https://storelogy.com/blog/selling-vs-branding/
  • https://akukukuh.com/jualan-ataukah-branding-dulu/
  • https://hq.belanja.bio/selling-dulu-atau-branding-dulu/
  • https://www.umkmxpedia.com/article/branding-dulu-apa-selling-dulu-ya
  • https://www.abyadscreenprinting.com/sejarah-tentang-nike-dan-juga-perkembangannya-di-indonesia/
  • https://highlight.id/sejarah-awal-mula-bisnis-nike-merek-fashion-sepatu-dari-masa-ke-masa/
  • https://pelakubisnis.com/2021/11/kepak-sayap-subiakto-priosoedarsono-di-dunia-branding/