Ada 3 Jenis Makna Produktif, Hanya Ada 1 Jenis Makna Produktif yang Benar; Kalau Anda Termasuk yang Mana?

makna produktif yang benar

Normalnya, setiap orang ingin menjadi termasuk orang yang produktif.

Pasti, tidak mau dan tidak ingin menjadi tidak produktif.


Nah, terus, gimana caranya supaya kita bisa produktif? Dan, gimana caranya kita tahu bahwa kita udah produktif?

Soalnya ada banyak fakta, orang yang sudah merasa dirinya produktif, tapi kok lama-lama jadi kerasa kayak kurang produktif ya?

Karena, sebenarnya, ketika orang membahas & mengatakan soal “produktif”, ada 3 kemungkinan yang ia maksud.

Apa saja 3 itu? Yaitu:

1. Produktif itu kebalikan dari konsumtif. Produktif itu kalau kita aktif, sebagai subyek, tidak pasif, bukan sebagai obyek

Ada yang memaknai, bahwa makna produktif itu sekadar melakukan pekerjaan yang sifatnya aktif, kebalikan dari pasif.

Pokoknya sebagai subjek, bukan objek.

Pokoknya produksi, bukan konsumsi.

Kalau diceritakan, biasanya terdapat kata “me-” pada kalimat cerita tersebut. Biasanya sih. Tapi yang penting, intinya bersifat aktif, sebagai objek. Misalnya

    • Membantu
    • Menolong
    • Merawat
    • Menulis
    • Membuat film

Sedangkan kalau yang pasif, sebagai objek:

    • Dibantu
    • Ditolong
    • Dirawat
    • Dituliskan
    • Nonton film

Pokoknya sekadar aktif, sebagai subyek, bukan sebagai objek; itu sudah termasuk produktif.

Kalau bersifat konsumsi, itu berarti bukan produktif.

Definisi ini nggak 100% salah sih. Sebenarnya tergantung konteks pembicaraannya apa. Bisa aja bener.

Cuman, mungkin ada jenis maksud yang lebih cocok. Nanti kita bahas di paragraf bawah. Yuk kita lanjut baca lagi.

2. Produktif itu pokoknya setiap input dan proses yang menghasilkan output, pokoknya output apa saja

Ada yang memaknai, produktif itu pokoknya menghasilkan sesuatu. Ntah itu menghasilkan uang, menghasilan barang, menghasilkan karya, menghasilkan kedekatakan hubungan yang lebih baik.

Jadi bukan sekadar melakukan kegiatan yang sifatnya aktif dan sebagai subyek, namun terdapat output. Bukan sekadar satu pekerjaan yang berdiri sendiri, pokoknya asal kerja saja. Namun pekerjaan yang tatkala pekerjaan itu sedang dan telah dilakukan, terdapat progress.

Dari progress itu, biasanya mulai terlihat bisa dirasakan hasilnya. Terlepas hasilnya sedikit atau banyak, terlepas benar atau tidak, terlepas mendekatkan pada tujuan atau tidak, pokoknya ada sesuatu output aja.

Misalnya, kalau ada orang memasak, lalu menghasilkan makanan yang bisa dimakan, yasudah, berarti itu sudah produktif.

Kalau ada orang yang hobi bikin konten; baik itu output-nya berupa video, audio podcast, gambar meme, tulisan artikel; itu berarti sudah termasuk perbuatan yang produktif. Menurut, jenis pendapat yang kedua.

Nah, tapi ada pendapat yang ketiga.

Yang kalau saya pribadi, prefer mengadopsi pendapat yang ketiga ini. Karena jenis maksud produktif ke-3 yang berikut ini yang benar.

3. Produktif itu setiap input dan proses yang menghasilkan output, yang mendekati atau bahkan persis 100% sesuai harapan dan tujuan

Maka produktif yang benar, sebenarnya agak serupa dengan jenis maksud produktif yang dijelaskan di pendapat kedua barusan sebelumnya tadi.

Tapi ada sedikit tambahan. Yaitu, hasil atau output-nya harus mendekati atau bahkan sesuai tujuan. Sesuai target. Sesuai goal. Sesuai impian. Sesuai cita-cita. Sesuai visi.

Mungkin sekilas ada sebagian dari Anda yang tidak setuju, menganggap bahwa jenis pendapat yang ketiga ini nggak penting diklasifikasi seperti ini. Karena yang penting selama seseorang sudah bisa menghasilkan karya, maka dia sudah produktif.

Padahal, sejatinya, sekadar menghasilkan karya saja itu belum tentu ia termasuk orang yang produktif.

Faktanya, banyak kok orang yang sibuk seharian, sampai sering sangat kelelahan, namun di penghujung hari dia sering merasakan ketidakpuasan dan penyesalan.

Jika sudah menjelang akhir waktu, seperti hari Minggu dan sudah masuk hari Senin lagi, atau sudah dekat tanggal 30 sudah mau masuk awal bulan lagi, apalagi sudah masuk akhir tahun mau menjelang awal tahun; dia seperti ada perasaan ketakutan; “Kok kayaknya aku gini-gini aja yaa… Udah satu minggu, tapi akun nggak semakin dekat dengan wisuda… Nggak semakin dekat bisa menikah.. Nggak semakin bisa melunasi hutang… Nggak semakin dekat bisa membeli Rumah… Kayak stagnan, di sini-sini aja, nggak jalan… Malah di beberapa kasus, mundur… Padahal aku udah ngerjain & ngelakuin banyak hal..”.

Mungkin ini serupa atau sama dengan apa yang biasa orang sebut insecure dan over-thinking.

Memang, hal itu bisa terjadi karena berbagai macam faktor.

Namun, ada satu faktor yang nomor satu, yang prioritas, yang paling fundamental, yang banyak orang tidak perhatikan.

Yaitu, yaa goal. Alias, tujuan.

Bahkan yang lebih umum lagi, tujuan hidup.

Terkadang orang hanya sibuk berdebat, “Barang yang bagus yang mana? Yang A atau yang B?”, tapi malah terlewat belum membahas: tujuanmu untuk apa dulu? Kamu pakai barang itu untuk apa aja? Mau ngapain? Keperluanmu apa?

Nanti pilihan kita itu, yaa disesuaikan dengan tujuan.

Dan lagipula, nggak jarang lho, orang beli sesuatu, yang akhirnya jarang dipakai. Bahkan, amat-sangat jarang nyaris tidak dipakai. Kok bisa begitu, salah satu penyebabnya, karena yaa nggak dikaitkan dengan tujuan.

Tujuannya apa dulu?

Makanya kadang saya itu beberapa kasus, suka agak menyindir, setengah serius dan setengah bercanda; ketika ada sebagain teman-teman, kenalan-kenalan, atau orang-orang di sekitar yang mengajak saya, meminta saya, menyuruh-nyuruh saya, memaksa saya; saya merespon dengan satu pertanyaan yang tak jarang membuat mereka menjadi instan terdiam sekilas. Pertanyaan apa itu? Yaitu, pertanyaan: “tujuannya buat apa?”.

Sering banget, orang ketika ditanya seperti itu, terdiam. Mungkin ada diamnya selama beberapa detik, bahkan cukup lama. Pertanda ia sedang berfikir.

Walaupun belum tentu ajakan mereka itu salah sih. Yaa bisa aja benar, jika memang real ada tujuannya. Dan apa-apa yang mereka ajak, katakan, minta, lakukan; itu semua sudah sesuai dengan tujuan. Jika seperti itu, maka tinggal dijelaskan aja relevansi antara ajakan/kata-kata/kegiatan/dll itu sesuai dengan tujuan, jika dilakukan maka akan semakin mendekatkan dan sampai ke tujuan.

Oh iya, tapi bukan berarti ini kita jadi kayak paranoid yaa, bukan juga terlalu ‘serius’ terus dalam artian menjadi sangat kaku malah jadi nggak ada bercandanya dan hiburannya yaa. Ketika ada orang yang membahas hal receh untuk sekadar bercanda, malah kita anggap pesimis. Yaa kita proporsional aja, tetep aja sih, nggak apa-apa jika sesekali kita mau bercanda, menghibur, dan terhibur. Namun, itu pun juga ada tujuannya. Dan selama seperlunya saja, bukan 100% selalu berancda.

Misalnya, tujuan kita bercanda dan menikmati hiburan itu; biar kondisi lebih relaks, tidak tegang, sebagai ‘bumbu tambahan’ agar lebih mendekatkan hubungan dengan sesama, memicu perasaan senang karena kondisi perasaan senang akan lebih memudahkan informasi masuk ke otak dibandingkan perasaan tegang, sebagai istirahat karena sudah banyak menguras tenaga, dan lain-lain.

Well, jadi sedikit keluar topik yaa…

Kalau begitu, kembali ke topik lagi, yakni soal harus ada tujuan…

…. Nah, maka, hati-hatilah. Jangan sekadar pokoknya menghasilkan karya, pokoknya terlibat dalam suatu organisasi, pokoknya sudah bisa pegang banyak duit, itu sudah dianggap produktif.

Harus clear dulu, tujuannya apa? Jangan sampai, hanya sekadar sibuk, tapi tak mendekatkan kita pada tujuan. Apalagi kalau hanya jalan di tempat.

Misalnya, kita coba bicara tentang bisnis.

Ujung-ujungnya, tujuan bisnis itu yaa profit.

Jadi, hati-hati jika seandainya kita hanya sekadar melihat jumlah penjualan produk tinggi, omzet meningkat, atau bahkan hanya melihat uang kas kelihatannya sih banyak. Tapi coba cek laporan laba-ruginya, gimana tuh profitnya? Apakah sedikit? Atau malah minus? Kegedean cost-nya?

Masih soal bisnis. Misalnya jika kita ada planning, ingin mengganti packaging produk. Pastikan itu ada reasoning-nya, ujung-ujungnya yaa supaya profit, terlepas secara langsung maupun tidak langsung. Atau yang serupa demikian, tujuannya menghindari lost yang besar.

Kalau yang mungkin agak langsung efeknya, mengganti packaging agar menjadi lebih bagus, ada tulisan yang menarik, desain lebih bagus, dan sebagainya. Kalau yang agar menghindari lost yang besar, mungkin karena packaging sebelumnya tidak sesuai standar yang seharusnya, misalnya ada tulisan yang over-claim atau miss-lead. Jika seperti itu, ada kemungkiaan akan berurusan dengan hukum, sehingga hal tersebut dapat menyita banyak resources seperti waktu, tenaga, dan uang; yang mengakibatkan profit berkurang.

Contoh lain, yang masih berkaitan dengan profit. Ada orang yang menjadi content creator, seperti misalnya youtuber. To the point, yaa supaya memiliki penghasilan.

Tapi kadang, ketika orang tersebut dinasehati bagaimana pola sukses content creator yang sukses dalam artian bagus penghasilannya, dia kurang berminat. Sekilas, sepertinya dia hanya memuaskan naluri dan ego saja, yang penting ada perasaan senang ketika membuat konten, bisa menyalurkan hobi, meskipun kurang menghasilkan.

Namun, dia anggap dirinya itu sudah produktif.

Yaa tergantung tujuan sih. Kalau memang itu hanya hobi, yaa silahkan saja. Tanda hobi itu kan salah satunya merasa seneng.

Tapi, jangan komplain, kenapa sudah capek-capek bikin konten, tapi kok nggak ada menghasilkan uang yang banyak? Bahkan tidak ada sama sekali? Kenapa resolusi tahun ini berupa ingin beli motor, ingin menikah, ingin beli mobil, ingin beli Rumah, dan sebagainya kok gagal terwujud?

Kalau memang tujuannya ingin beli motor, beli mobil, bisa menikah, dan sebagainya; maka yaa lakukanlah sesuatu yang bisa mendekatkan kita ke situ.

Jika kelihatan ada progress-nya, bahkan sudah sangat kelihatan mendekati tujuan; berarti aktivitas sehari-hari Anda itu termasuk produktif. Kenapa? Karena mendekatkan pada tujuan. Bahkan, akhirnya membuat kita sampai pada tujuan.

Terakhir, saya ingin menutup pembahasan kita kali ini dengan sebuah cerita. Cerita yang serupa dengan yang tadi saya ceritain di atas soal di-ghibah-in orang itu.

Kadang, ada orang lain yang suka ngomentari kita. Menurut mereka, yang kita lakukan itu tidak bagus, bahkan keliru. Misalnya:

  • Baca buku melulu
  • Di depan laptop melulu, di dalam ruangan melulu
  • Atau sebaliknya, keluyuran keluar melulu
  • Dan sebagainya, yang mungkin itu terasa membosankan.

Nah, sebenarnya, persoalannya itu bukan harus melakukan sesuatu yang seru nggak membosankan, harus jalan-jalan ke luar Rumah, harus baca buku, atau harus ini-itu. Yang benar itu, pokoknya kita harus melakukan sesuatu, yaa yang mendekatkan kita ke tujuan kita. Terlepas apakah sesuatu itu kebetulan menyenangkan, atau rasanya sangat membosankan. Terlepaskan sesuatu itu menuntut kita cukup di dalam ruangan aja , atau menuntut kita harus rajin jalan-jalan ke luar.

Yang mana yang sesuai tujuan? Itu yang dilakukan.


Makanya ketika saya diomongin, di-ghibah-in, dikomentari bahwa yang saya lakukan itu kayaknya membosankan dan nggak bagus gitu, kadang saya diem aja, karena saya tahu dan sudah mengkaji, bahwa yang saya lakukan itu sudah sesuai tujuan.

Di beberapa kasus, saya cukup tanya balik aja, “Emangnya tujuan kita apa?”, atau yang serupa dengan demikian:

  • “Oooh.. Buat apa?”
  • “Abis itu, dapat apa…??”
  • “Kenapa mesti begitu?”
  • “Untuk apa?”
  • “Urgensinya apa?”
  • “Aku perlu kayak gitu?”
  • “Kayaknya untuk saat ini aku belum butuh, bener nggak?”

Kalau misalnya kok kata-kata itu agak bikin perasaan orang jadi nggak enak yaa. Yaa tinggal dicari aja sih pemilihan kata-kata lainnya, tinggal diatur aja, gimana biar nggak kayak menyinggung atau menyindir. Misalnya, bisa mengapresiasi dulu, “Wah iya enak juga itu Bro. 😍👍 Btw itu nanti kalau sudah begitu buat apa ya Bro…?? 😯” tinggal diatur ekspresinya. Atau di beberapa kasus jika memungkinkan, coba diikuti saja dulu, lalu nanti di tengah jalan atau setelah itu kita mempertanyakan tujuannya.

Sekali lagi. Jadi…. yang mana yang sesuai tujuan? Ya itulah yang dilakukan.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by YEA VIRTUAL (@yeavirtual)

Kalau kebetulan prosesnya dan aktivitasnya itu enak, menyenangkan, kebetulan hobi; yaa alhamdulillah. Mungkin itu semacam bonus. Mungkin juga, lebih hoki.

Tapi kalau kebetulan prosesnya itu rasanya berat banget, nggak enak, ngebosenin, bikin jenuh, yaa mestinya tetep harus dilakukan. Karena hanya dengan begitu, tujuan kita bisa tercapai.

Makanya kan kadang orang sukses itu nggak banyak, karena kalau sehemat yang saya perhatiin, nggak banyak orang yang rela berkorban, capek-capek, menghadapi kejenuhan, being extra-ordinary, push the limit, apalagi menghadapi masalah dan beban yang memberatkan.

Kesimpulannya: Jika aktivitas kita itu menghasilkan, kemudian hasilnya mendekati atau bahkan persis sesuai dengan tujuan yang kita harapkan, itulah yang disebut produktif.

Hati-hati jika aktivitas kita itu sekadar ikut-ikutan orang, dan secara perasaan kita asal-asal menentukan: ooh pokoknya kalau kita bikin konten apa aja, itu produktif. Pokoknya kita melayani client aja, itu udah produktif. Pokoknya saya rajin nongkrong-nongkrong networking ngobrol-ngobrol sama orang, itu udah pasti produktif.

Hati-hati! Pastiin dulu sudah ada clear goal. Harus ada tujuan yang jelas. Nah nanti aktivitas kita mesti ngapain, itu tentuin aktivitas mana yang bisa membuat kita mencapai goal itu.

Itu baru produktif.