Kadang “Nasehat” Itu Memang Perlu Diulangi Berkali-Kali, Agar Akhirnya Diterima

Pernah nggak temen-temen, ngasih nasehat ke orang lain, awalnya menolak, tapi lama-lama akhirnya mau nerima juga?

Kita minta mereka buat ngelakuin sesuatu atau tidak usah melakukan sesuatu, tapi nggak orang itu praktekin.


Malah bahkan mereka mengiyakan, “Okey Mas” gitu misalnya.

Nah, tapi, setelah beberapa waktu kemudian, akhirnya mereka praktekin juga apa yang kita nasehatin itu.

Terlepas apakah setelah beberapa hari kemudian, atau berapa minggu kemudian, beberapa bulan kemudian, atau bahkan beberapa tahun kemudian.

Kenapa bisa begitu? Nah, salah satu penyebabnya, memang yang namanya nasehat-nasehat gitu ada yang memang perlu diulang-ulangi terus. Direpetisi terus.

Cara mendoktrin itu, salah satunya, memang terus-terusan disampaikan. Sampaikan, dengan frekuensi yang nggak sedikit.

Termasuk saya, mungkin udah lama dapat nasehat bahwa kita harus baca buku. Meski saya mengangguk-angguk, tapi nggak langsung saya praktekkan, baca buku setiap hari.

Tapi, setelah frukensi ke-sekian saya dapat nasehat begitu, akhirnya, berhasil juga. Akhirnya, saya bisa baca buku setiap hari.