“Kamu nanyea?” Itu Bagus Buat Nanggepin Pertanyaan yang Nggak Butuh Jawaban

“Kamu nanyea?”

Gaya seperti itu mungkin kadang perlu juga dipakai yaa, khusus untuk menanggapi orang-orang tertentu yang pertanyaannya nggak  usah dijawab sebenarnya.

Jadi kalau kata guru saya, ada yang namanya “Orang yang bertanya”, dan ada yang namanya “Orang yang ‘mempertanyakan'” (dalam tanda petik yaa).

Bedanya apa?

Kalau orang yang “bertanya” itu, yaa biasa, memang orang itu butuh jawaban, butuh informasi, memang tidak tahu, dan kepingin tahu, pingin diberi tahu.

Tapi beda dengan ‘mempertanyakan’ (dalam tanda kutip yaa). Kalau “mempertanyakan” sebenarnnya dia bukan mau mencari tahu, tapi dia pingin mendebat. Pingin menafikan.

Contohnya:

  • “Emangnya, buat apa pakai jilbab? Hah?”
  • “Emangnya kenapa kalau ada ribanya?”
  • “Masalah buat lo?”
  • “Kalau bermanfaat buat gua, terus kenapa rupanya?”

Nah ini secara tersirat bukan “pertanyaan”, melainkan “‘mempertanyakan'”.

Jadi sebenarnya kayak sanggahan, tapi bentuk kalimatnya pertanyaan. Nah itu ‘mempertanyakan’ itu begitu.

Nah khusus orang yang kayak begini, kadang nggak usah dijawab, kadang bagus juga kalau kita tanggapi dengan “Kamu nanyea?”.

Tapi nggak usah pakai singanya.

Gimana menurut kalian? Setuju nggak?