Pesimis Itu Belum Tentu Buruk Lhoo, Kadang Perlu Malah

Pesimis itu belum tentu buruk lhoo. Kadang justru penting.

Misalnya, kalau di organisasi, bagian keuangan, itu perlu punya sifat agak pesimis, bayangin kemungkinan negatif di masa depan, dia harus khawatir kalau misalnya nanti uang kas nggak cukup buat bayar tagihan. Maka, dia gak bakal asal meng-iya-iyain pengajuan anggaran. Harus kritis dia. Pengajuan anggaran itu harus argumentatif bagi dia.

Orang sering bilang mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Maka agar bisa mencegah, kita harus bayangin kemungkinan buruk di masa depan kan? Ga bisa asal positif okey sip ini pasti lancar ga akan ada masalah pokoknya.

Dan kalau menurut buku Managing with NLP ini, pertama, ini bicara role aja. Orang yang cenderung dominan pesimis itu cocok untuk pekerjaan tertentu, dan orang yang cenderung dominan optimis itu cocok untuk pekerjaan tertentu lainnya. Jadi pinter-pinter kita menempatkan orang aja.

Dan selain itu, sebenarya ini masalah porsi persentase juga, yang bisa kita atur. Kadang di hal-hal terentu, kita mesti dominan optimis daripada pesimis. Sementra di hal-hal tertentu lainnya, kita dominan pesimis daripada optimis. Bahkan kadang perlu juga optimis total atau pesimis total.

Yang mutlak gak boleh itu kalau terlepas dari pesimis atau optimis itu membuat kita melanggar hukum, melakukan yang haram.

Jadi optimis atau pesimis itu bisa diatur.

Ibarat naik mobil atau motor itu kan, ada saatnya ngegas, ada saatya ngerem.