Siapa Bilang Kita Gak Boleh Pakai Kata “Jangan”? Ini Kesalahan Teori Laragan Kata “Jangan” PART 1

Siapa bilang kita gak boleh pakai kata “jangan”? Ini kesalahan teori larangan pakai kata “jangan”, part 1.

Kalian mungkin pernah denger teori bahwa kita itu nggak boleh pakai kata “jangan”, menurut teori itu, kata “jangan” itu nggak efektif, dan justru kontraproduktif.

Seperti kalau kita katakan jangan lihat kiri, eh katanya orang malah jadi lihat kiri. Kesimpulannya kalau kita bilang “Jangan bohong”, “Jangan malas”, “Jangan lari-lari” maka orang justru akan melakukan kebalikannya.

Nah ini sebenarnya tidak tepat yaa.

Faktanya, sering juga kok kata jangan itu efektif dan membuat orang mengurungkan hal yang dilarang itu.

Nah adapun penyebab kenapa kayak kurang efektif & kayak kontraproduktif adalah, karena tidak diberikan alasan mengapa hal tersebut dilarang. Atau, ada alasannya tapi kurang kuat. Mesti ada faktor why, bahkan big why atau strong why.

Kalau ada alasannya, dan alasannya kuat, insyaAllah efektif kok.

Misalnya, “Eh jangan lihat ke sebelah kiri, karena ada orang lagi ganti baju.”. Nah gitu kan lebih reasonable. Bahkan bisa diperkuat lagi faktor why-nya. “Eh jangan lihat ke kiri, karena ada orang lagi ganti baju, awas nanti kalau lihat malah ditonjok, bisa dilaporkan ke polisi, dosa, istrimu ngamuk!” dan sebagainya gitu.

Kalau udah gitu, bisa aja efektif kan.

Nah jadi sebenarnya nggak masalah pakai kata “jangan”, silahkan aja. Toh nggak juga yang ngelarang kata “jangan” itu seumur hidupnya gak bakalan pakai kata “jangan” lagi  sama sekali.

Paling issue-nya itu yaa itu tadi, sebaiknya ngelarang itu mesti ada faktor why. Bahkan big why atau strong why, agar larangannya semakin efektif. Bisa secara argumen, logis, atau secara emosi, lumayan ‘menyentuh’ perasaan gitu.

Terkait alasan kedua, kita lanjut di Part 2 besok yaaa.


Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/rambu-jalan-tertutup-951409/