Siapa Bilang Kita Gak Boleh Pakai Kata “Jangan”? Ini Kesalahan Teori Laragan Kata “Jangan” PART 3

Benar kah kita nggak boleh menggunakan kata “jangan” karena katanya kata “jangan” itu nggak efektif, part ke-3.

Okey kita lanjut pembahasan part 2 kemarin yaa.

Mereka yang mengatakan kata “jangan” itu nggak efektif & kontraproduktif, salah satu alasannya adalah, karena itu merupakan semacam bentuk ancaman. Agak negatif gitu vibes-nya. Itu nggak bagus, gitu.

Nah sebenarnya nggak juga sih. Kalau kita lihat di buku Managing with NLP-nya Pak Wiwoho ini, ada dibahas yang namanya profil kecenderungan motivasi.

Jadi memang ada orang yang lebih termotivasi jika mendekati gain (atau kenikmatan), dan ada yang lebih termotivasi jika menjauhi kesengsaraan (pain).

Contoh, di Kantor, ada yang perform ketika dijanjikan hadiah. Tapi ada yang dijanjiin hadiah, nggak ngefek. Lebih ngefek kalau diancam hukuman.

Contoh lain, ada pasien yang baru mau ngabisin obat yang diresepkan, ketika dikatakan, “Dihabisin ya Pak obatnya, biar cepat sembuh, bisa jalan-jalan.” Tapi ada juga yang lebih efektif jika dikatakan, “Jangan nggak dihabisin ya Pak, nanti sakitnya nggak sembuh-sembuh lhoo, nggak bisa jalan-jalan.” Nah begitu justru lebih efektif.

Nah jadi 2-2-nya bisa dipakai kok. Motivasi mendekati gain ataupun motivasi menjauhi pain. Disesuaikan saja dengan profil orang yang kita hadapi.


Sumber gambar: https://www.quora.com/What-is-carrot-and-stick-policy

Jangan lupa follow juga Brave and Force di Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, Twitter, & Telegram ya Guys yaa.